Postingan

MTA Tidak Menafsir Al Qur’an

Gambar
Oleh Hasan Ikhwani* Foto; Bapak Jokowi dan Ketua MPR menghadiri silatnas MTA 3 di Solo. Sumber ; mta.or.id Tulisan Ibnu Burdah yang dimuat di Jawa Pos 19 September 2017 halaman 4 berjudul, MTA: Pemurnian atau Pendangkalan? Tulisan tersebut seolah menggugat kepada MTA, bahwa MTA memberikan pelajaran tafsir dengan tidak mengikuti kaidah-kaidah dalam Ulumul Qur’an dan khazanah keIslaman. Tulisan saya ini merupakan tanggapan dari tulisan Sdr. Ibnu Burdah yang merupakan dosen UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Majlis Tafsir Al Qur’an (MTA) didirikan oleh seorang mujahid, Al Ustad KH (alm) Abdullah Thufail Saputra pada tanggal 19 September 1972 di Surakarta. Latar belakang didirikannya MTA oleh beliau adalah, kondisi umat Islam waktu itu yang jauh dari pemahaman Al Qur’an. Pelajaran tafsir Al Qur’an waktu itu diberikan beliau kepada murid-muridnya secara urut mulai Surat Al Fatihah, dilanjut dengan Surat al-Baqarah dengan didektekan secara oral setelah beliau merangkum dan menelaah ...

Jangan Lelah Melafazkan Surat CintaNya

“Dan bacalah Al-Qur`an dengan setartil-tartilnya.” (Al-Muzzammil: 4) “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mengerjakan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”. (Faathir:29-30) “Orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan dia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat di dalam Syurga bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi dia tidak mahir, membacanya tertegun-tegun dan nampak agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan mendapat dua pahala.” (Riwayat Bukhari & Muslim) “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Utrujjah yang baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan orang mukmin ya...

Tentang Senja Yang Tak Pernah Sama

Burai senja di sudut kota. Kulihat sesimpul senyumnya setia menyapa senja. Entah apa yang di benak pikirnya. Kulihat, ia selalu bahagia. Sambil memainkan bayangan dirinya, seakan bercengkrama. . Kau kira senja selalu sama. Warnanya merah saga. Arak-arakan awan kadang menyilau keemasan. Terkadang bagaikan lukisan pantai juga lautan. Juga mentari yang kadang sembunyi di balik awan. Semilir angin sepoi, juga kicau burung seakan turut meramaikan senja hari. Baginya senja selalu berbeda. Begitulah yang dapat kulihat dari sorot mata juga bahasa tubuhnya. Baginya, tiap-tiap senja punya cerita. Tentang segala hal yang telah dilalui sepanjang hidupnya. Tentang senja, tak pernah sama. Ia, selalu mengeluar makna. Rehat sejenak di penghujung siang. Menuai makna kesyukuran. Akan selalu hadirnya senja, juga saga yang sejenak beranjak purna. . Tentang senja yang tak pernah sama. Tapi, kesemuanya ada kesamaan, tiap aku melihat. Ia duduk di sudut beranda. Lengkap dengan pena, notebook da...

MUROBBI ERA GLOBALISASI DAN DEKADENSI MORAL

Gambar
لِيُذِيقَهُمْ النَّاسِ يْدِىأَ كَسَبَتْ بِمَا وَالْبَحْرِ الْبَرِّ فِى الْفَسَادُ ظَهَرَ يَرْجِعُونَ ۝   لَعَلَّهُمْ عَمِلُواْ الَّذِى بَعْضَ  “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Rum: 41) Kehidupan manusia semakin berkembang, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) juga tak kalah bersaing, keduanya berkembang beriringan seiring kebutuhan manusia yang semakin kompleks. Perkembangan teknologi tersebut tentu memberikan efek positif dan negatif. Pada kenyataanya, justru perkembangan tenologi tersebut dijadikan sebagai sarana tindak kejahatan dan sarana perusakan moral bangsa. Era globalisasi, dimana bangsa Indonesia mengalami dekadensi moral. Kerusakan merajalela di segala bidang, baik dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi dan sebagainya. Mulai dari anak...

Guratan Harapan Menjadi Penentu Peradaban

Gambar
Aku yang sedari dulu, semenjak bangku sekolah menengah atas telah menyadari. Bahwa aku adalah wanita. Bahwa aku adalah muslimah. Bahwa aku nanti suatu saat pasti akan menjadi seorang istri. Bahwa aku suatu saat akan menjadi seorang ibu. Bahwa aku suatu saat pasti akan menjadi madrasah pertama bagi putraku. Bahwa aku pasti akan mati. Bahwa aku pasti akan dimintai pertanggung jawaban akan kepemimpinan di rumah tangga suamiku. Bahwa aku pasti akan dimintai pertanggung jawaban dalam mendidik putra-putriku. Allah, izinkan aku menjadi ibu. Sedari itu pula aku menyadari. Bahwa bekal menjadi ibu yang luar biasa bagi buah hati bukanlah hal sepele. Bahwa hal itu bukan di siapkan dengan tiba-tiba. Bahwa hal itu mesti harus punya ilmu pengetahuan yang tak berbatas. Bahwa hal itu pasti harus dipersiapkan semenjak aku menyadari bahwa aku adalah seorang perempuan. Maka, Wahai Dzat Yang Maha Kasih dan Penguasa Semesta, izinkan aku menjadi ibu bagi putraku. Akan kudidik ia menjadi pribadi y...

Surat Cinta Single Lillah #coverSuratCintaUntukStarla

Gambar
Kutuliskan harapan tentang Dia yang kan jadi imamku nanti Tentang cara yang membuatku mudah  Berikan hatiku padanya Takkan habis sabar hatiku Untuk jemput hari bahgiaku Kan teramat panjang sujudku Tuk menyatakan harap ini Telah habis sudah harap ini Tak lagi tersisa untuk manusia Karna tlah kupasrahkan Semua harapku hanya untukMu Aku pernah berpikir tentang Hidupku tanpa ada cintaMu Dapatkah lebih indah dari Yang kujalani sampai kini Aku slalu bermimpi tentang Indah hari saat jumpa dengannya Tetap utuh cinta untukMu Dan belajar taat padanya Bila habis sudah waktu ini Tak lagi berpijak karna manusia Telah aku habiskan Sisa hidupku hanya untukMu Dan tlah habis sudah cinta ini Tak lagi tersisa untuk dunia Karena tlah kuhabiskan Semua cintaku hanya untukMu UntukMu Hidup dan matiku Bila musim berganti Sampai waktu terhenti Walau dunia membenci Ku kan tetap disini Bila habis sudah waktu ini Tak lagi berpijak karna manusia Telah aku habiskan...

Menyambut Purnama

Gambar
Purnama selepas senja Aku menyapa Disebalik jendela Dibawah naungan selimut malam Ku melihat mu Di balik dedaunan pisang nan rimbun belakang rumah Malam itu aku bercengkrama dengan hatiku Purnama… Berkatmu aku kembali menemukan separuh nyaliku KuasaNya mencipta purnama Menguatkan kembali azamku Mengingatkan kembali akan titian harapan Purnama Trimakasih… Aku telah menemukan kembali diriku Yang sempat sembunyi beberapa waktu Atas namaMu Ke Maha Besar Mu Tuntunlah aku menyambut purnamaMu Berbalut bahagia Menemukan dan menyambut Dalam taatku Aku siap menyambut PurnamaMu Ijinkan aku Rabbi…