Guratan Harapan Menjadi Penentu Peradaban
Aku yang sedari dulu, semenjak bangku sekolah menengah atas telah
menyadari. Bahwa aku adalah wanita. Bahwa aku adalah muslimah. Bahwa aku nanti
suatu saat pasti akan menjadi seorang istri. Bahwa aku suatu saat akan menjadi
seorang ibu. Bahwa aku suatu saat pasti akan menjadi madrasah pertama bagi
putraku. Bahwa aku pasti akan mati. Bahwa aku pasti akan dimintai pertanggung
jawaban akan kepemimpinan di rumah tangga suamiku. Bahwa aku pasti akan
dimintai pertanggung jawaban dalam mendidik putra-putriku. Allah, izinkan aku
menjadi ibu.
Sedari itu pula aku menyadari. Bahwa bekal menjadi ibu yang luar
biasa bagi buah hati bukanlah hal sepele. Bahwa hal itu bukan di siapkan dengan
tiba-tiba. Bahwa hal itu mesti harus punya ilmu pengetahuan yang tak berbatas.
Bahwa hal itu pasti harus dipersiapkan semenjak aku menyadari bahwa aku adalah
seorang perempuan.
Maka, Wahai Dzat Yang Maha Kasih dan Penguasa Semesta, izinkan aku
menjadi ibu bagi putraku. Akan kudidik ia menjadi pribadi yang kuat aqidahnya.
Menjadikan Allah dan RasulNya adalah yang paling utama. Akan kudidik ia supaya
mencintai Al Quran, menjadi hamba yang tawadhu’, mencintai ilmu, menjadi
pemimpin yang adil, rajin ibadah dan tidak terpedaya gemerlap dunia. Seperti
Umar bin Abdul Aziz. Sang penegak keadilan.
Umar bin Abdul Aziz
Seorang khalifah yang zuhud pada masa Dinasti Umayyah. Kisah
perjalanan hidupnya dimulai sejak kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab.
Bermula dari kisah seorang penjual susu dan putrinya yang bersikeras tidak mau
mencampurkan susu dengan air. Umar yang mendengar hal itu kemudian pagi harinya
menyuruh putranya, Ashim, untuk mendatangi rumah itu dan menikahi putri
tersebut. Pernikahan itu dikaruniai seorang putri bernama Ummu Ashim. Ummu
Ashim binti Ashim kemudian dinikahi Abdul Aziz bin Marwan, maka lahirlah Umar
bin Abdul Aziz.
Umar bin Abdul Aziz, seorang pemimpin yang adil, tegas, lurus dan
cerdas serta mencintai dan mengasihi rakyatnya. Yang kewaraannya hingga tidak
mau mencium minyak misik dari harta fai. Yang mengeluarkan seluruh hartanya
untuk dikembalikan kepada jalan Allah. yang
menghabiskan waktu siang dan sebagian malam untuk kepentingan umat.
Menghabiskan malam-malamnya untuk bermunajat.
Umar bin Abdul Aziz, yang takutnya kepada Allah hingga membuat
sekujur tubuhnya menggigil. Hingga suatu waktu, saat istrinya ditanya bagaimana
ibadah suaminya. Maka ia menjawab, “ Demi Allah, ia bukanlah termasuk orang
yang paling banyak shalat dan puasanya. Tetapi demi Allah, aku tidak melihat
ada orang yang lebih takut kepada Allah melebihi takutnya Umar. Saat ia
berdzikir pada Allah di tempat tidurnya, tiba-tiba ia menggigil seperti
menggigilnya burung pipit karena takutnya kepada Allah.”
Umar bin Abdul Aziz, yang getar takutnya pada neraka hingga membuat
kerongkongan terasa tercekik saat membacakan Surat Al lail dihadapan
orang-orang. Sampailah pada ayat ke 14 yang berbunyi, “maka kami
peringatkanmu dengan neraka yang menyala-nyala”. Seketika Umar tak mampu
melanjutkan membaca surat tersebut dan menggatikan membaca surat yang lain.
Apabila nantinya putraku ialah pemegang kekuasaan, menjadi
pemimpin. Maka harapanku seperti Umar bin Abdul Aziz. Ia yang sungguh-sungguh
menjalankan amanah, ia yang menjaga segala urusanya sentiasa berpegang pada
Kitabullaah dan As sunah. Ia yang berusaha menegakkan keadilan, mendahulukan
kepentingan umat, mencintai rakyat, dan berhati-hati atas segala langkah dan
keputusan-keputusan yang diambil.
Apabila nantinya putraku ialah seorang alim, penuntut ilmu. Maka
harapanku seperti Umar bin Abdul Aziz. Ia yang sentiasa keras membenarkan
kekeliruan, menyampaikan hak Allah dan hak ilmu yang ada pada pundaknya.
Benar-benar melaksanakan perintah Allah amar ma’ruf nahi munkar, serta
menyebarkan ilmu pada sesama manusia.
Apabila nantinya putraku ialah seorang yang kaya. Maka harapanku
seperti Umar bin Abdul Aziz. Ia yang menginvestasikan kebaikan-kebaikan dengan
harta yang dimiliki. Ia yang mudah memberi pada kaum fakir miskin, menyantuni
kaum lemah. Ia yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah.
Apabila nantinya putraku hidup pada keadaan zaman yang tak menentu,
maka biarlah ia meniru Umar bin Abdul Aziz. Ia yang mengajarkan sifat-sifat
hikmah dan bijaksana. Ia yang mencontohkan keteladanan, sebagai anak, sebagai
ayah, sebagai pemimpin, sebagai khalifah. Ia yang sentiasa bersabar atas segala
kesusahan. Ia yang ridho atas segala keputusan Allah, Ia yang hatinya sejuk sentiasa
dalam penjagaan Allah. Ia yang memakmurkan agama. Ia yang menahan diri dari
keinginan nafsunya. Ia yang bersikap qona’ah dan ‘affaf (menjaga kehormatan),
yang tidak tergoda gebyar dunia, yang jalan hidupnya yaitu jalan ketaqwaan.
Allaah, izinkan aku menjadi ibu bagi putraku. Nanti. Semoga.

Komentar
Posting Komentar