MUROBBI ERA GLOBALISASI DAN DEKADENSI MORAL




لِيُذِيقَهُمْ النَّاسِ يْدِىأَ كَسَبَتْ بِمَا وَالْبَحْرِ الْبَرِّ فِى الْفَسَادُ ظَهَرَ
يَرْجِعُونَ۝  لَعَلَّهُمْ عَمِلُواْ الَّذِى بَعْضَ
 “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar Rum: 41)
Kehidupan manusia semakin berkembang, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) juga tak kalah bersaing, keduanya berkembang beriringan seiring kebutuhan manusia yang semakin kompleks. Perkembangan teknologi tersebut tentu memberikan efek positif dan negatif. Pada kenyataanya, justru perkembangan tenologi tersebut dijadikan sebagai sarana tindak kejahatan dan sarana perusakan moral bangsa.

Era globalisasi, dimana bangsa Indonesia mengalami dekadensi moral. Kerusakan merajalela di segala bidang, baik dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi dan sebagainya. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa semua terkena dampaknya.

Peran murobbi saat ini sangat penting. Sebagai seorang pendakwah, menyampaikan kebenaran lewat langkah-langkah kecil tetapi pasti. Murobbi adalah istilah tarbiyah untuk menyebut pada seseorang yang menyelenggarakan dan bertanggungjawab atas proses tarbiyah suatu kelompok. Ia berperan penting sebagai pengawal regenerasi kader-kader dakwah. Ia pula yang bertanggungjawab melakukan proses tarbiyah, yaitu pembentukan pribadi dan pewarisan nilai, disertai kontrol dan evaluasi. Dengan peran murobbi inilah akan tercipta generasi perubahan, di mulai dari hal-hal kecil langkah kembali kepada Al Qur’an dan Hadits. Mampu menyeimbangkan kemajuan IPTEK dengan IMTAQ, sehingga seiring kemajuan teknologi juga semakin bertambah kualitas moral yang mana tentu berdampak pada pendayagunaan teknologi untuk hal-hal yang positif. sains adalah kajian terhadap alam yang telah diciptakan oleh Allah SWT.

Alam ini adalah kitab yang terbuka yang menyajikan kebesaran dan keagungan pencipta-Nya. Oleh itu kajian terhadap alam ini akan membawa manusia untuk mengenal Allah SWT dan dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya. Sains barat hanyalah bertujuan menggunakan pengetahuan tentang alam tabie untuk diaplikasikan sebagai teknologi.

Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran kami) kepada ulil albab. Yakni mereka yang mengingati Allah di dalam keadaan  berdiri, duduk dan berbaring seraya memikirkan tentang kejadian langit dan bumi. Mereka mengatakan, wahai Rabb kami sesungguhnya tidaklah engkau menjadikan ini dengan sia-sia belaka. Maha Suci Engkau, selamatkanlah kami daripada azab neraka.
( QS. Ali Imran : 190)

Pendekatan ini semata-mata telah menutup satu pintu besar manusia dan umat Islam khususnya untuk mengenal Allah SWT. Sains barat telah memudah dan menyenangkan kehidupan manusia tetapi oleh kerana ia  bersifat materialisme semata-mata, sains akhirnya membawa manusia kepada gejala keruntuhan akhlak yang sangat hebat. Sains memberikan kemudahan tetapi tidak dapat memberikan ketenangan dan kedamaian di dalam kehidupan manusia. Sains mestilah dikembalikan kepada landasan yang benar, untuk mengenal Allah dan mengembangkan teknologi yang akan memudahkan kehidupan manusia. Inilah peran besar murobbi dalam era globalisasi, bagaimana cara membentengi para cendekiawan dengan Al Qur’an dan Hadits melalui jalan dakwah.

Jalan dakwah melalui tarbiyah, proses pendidikan baik pendidikan dini maupun berkelanjutan. Tarbiyah secara spesifik dapat dikatakan sebagai upaya mendidik, memelihara, menjaga dan meningkatkan nilai-nilai keshalehan seseorang agar tetap berada pada lingkaran jama’ah kaum muslimin, tetap komitmen dengan pemahaman dan pelaksanaan segala bentuk amal ibadah harian dan terpelihara dari hal-hal bid’ah yang menjauhkan seseorang dari keridhaan Allah SWT.
Dalm medan dakwah, seorang murobbi harus memperhatikan hal-hal seperti di bawah ini :

1.             Meluruskan Niat Lillahi Ta’ala
“Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar (QS. An Nisaa : 146).
Hal yang pertama harus dilakukan adalah meluruskan niat. Niat merupakan pangkal diterimanya amal. Luruskan niat dalam membina sematamata karena Allah SWT (ikhlas). Semata-mata karena perintah Allah SWT.
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah (berdakwah), mengerjakan amal yang saleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” 
(QS. Fushilat: 33).
Niat yang ikhlas juga akan menggiring seorang murobbi melahirkan dakwahnya dari dasar kecintaan kepada Allah dan untuk agama-Nya, serta kecintaan kepada kebaikan untuk semua manusia. Karena, Allah tentu akan membalas semuannya dengan surga. Niat itu bukan semata-mata karena dunia, tetapi akhiratlah yang nyata adanya.
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (QS. Hud: 15-16)
2.             Istiqamah
Hendaklah seorang murobbi tetap dalam dakwah lillahi ta’ala. Seorang murobbi harus kokoh kedua kakinya agar tidak mudah digoncangkan oleh berbagai macam kecemasan dan tidak terhancurkan oleh keputusasaan, karena keyakin terhadap kebenaran jalannya dan mengharapkan hasilnya. Seorang murobbi akan merintis dari kelompok-kelompok kecil yang dilaksanakan secara berkesinambungan dan berkelanjutan mendalami ayat demi ayat dalam Al qur’an. Allah lebih menilai amalan hambanya yang kecil dan dilakukan dengan istiqomah.
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu"
(QS. Fushilat 30)

3.             Sabar
Seorang murobbi harus memiliki sifat sabar dan menguatkan kesabaran.

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.
(QS. Ali Imron 200)

Bersabar atas apa yang ia dapatkan berupa gangguan manusia, karena ia memahami setiap perkara dakwah akan mendapatkan gangguan dari berbagai kejahatan manusia yang anti dengan dakwahnya.

Belum sampaikah lagi masanya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyuk hati mereka mematuhi peringatan dan pengajaran Allah serta mematuhi kebenaran (Al-Quran) yang diturunkan (kepada mereka)? Dan janganlah pula mereka menjadi seperti orang-orang yang telah diberikan Kitab sebelum mereka, setelah orang-orang itu melalui masa yang lanjut maka hati mereka menjadi keras dan banyak di antaranya orang-orang yang fasiq (derhaka).
(QS. Al hadid 16)

Bukan hanya dari luar dari dalam diri berupa  karekter juga akan menjadi ujian kesabaran. Pangalaman seperti itu telah dialami oleh Nabi SWA  dan orang yang mendahului beliau dari kalangan para rasul yang mulia. Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiyaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah.”
(Al-An’am : 34)

Sabar adalah derajat yang tinggi yang tidak akan diperoleh kecuali dengan sebab yang seorang hamba tetap bertahan dengannya disertai kesabaran secara terus menerus dalam menanggung kesusahannya, Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pada mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar :10)

Dan hendaklah seorang pendakwah  menguatkan kesabaran di dalam menjelaskan kebenaran, mendakwahkannya dan adanya perdebatan didalamnnya serta bersikaplah dengan nafas panjang dan berpandangan jauh ke depan, sampai terwujud tujuan yang didinginkannya.


__۝-oOo-۝__

Komentar