Tentang Senja Yang Tak Pernah Sama
Burai senja di sudut kota. Kulihat sesimpul senyumnya setia menyapa senja. Entah apa yang di benak pikirnya. Kulihat, ia selalu bahagia. Sambil memainkan bayangan dirinya, seakan bercengkrama. .
Kau kira senja selalu sama. Warnanya merah saga. Arak-arakan awan kadang menyilau keemasan. Terkadang bagaikan lukisan pantai juga lautan. Juga mentari yang kadang sembunyi di balik awan. Semilir angin sepoi, juga kicau burung seakan turut meramaikan senja hari.
Baginya senja selalu berbeda. Begitulah yang dapat kulihat dari sorot mata juga bahasa tubuhnya. Baginya, tiap-tiap senja punya cerita. Tentang segala hal yang telah dilalui sepanjang hidupnya. Tentang senja, tak pernah sama. Ia, selalu mengeluar makna. Rehat sejenak di penghujung siang. Menuai makna kesyukuran. Akan selalu hadirnya senja, juga saga yang sejenak beranjak purna. .
Tentang senja yang tak pernah sama. Tapi, kesemuanya ada kesamaan, tiap aku melihat. Ia duduk di sudut beranda. Lengkap dengan pena, notebook dan secangkir coklat. Manis senyumnya, simpulnya seakan bahagia. Entah tersebab apa ia bahagia. Yang aku tahu, aku juga bahagia. .
Bagiku, senja adalah ia. Burai sinarannya seakan mengajakku bicara. Tentangnya di sudut kota. Yang tak henti bermandi saga. Ronanya membumbung di angkasa. Seakan tak henti bicara, ada pesan rindu untuk semesta, pada tiap tulisannya. .
Semesta Rasa. Surakarta, 21 Juli 2017
Komentar
Posting Komentar